Artikel
Polusi Udara Dalam Ruangan: Kapan Perlu Diuji?
29 September 2020
Diperbarui 23 Juli 2026
Gunakan pola keluhan, sumber, ventilasi, okupansi, kelembapan, dan kondisi luar untuk menentukan kapan kualitas udara dalam ruangan perlu diuji di fasilitas.
Jawaban singkat
Kapan keluhan udara dalam ruangan perlu ditindaklanjuti dengan pengujian?
Pengujian perlu dipertimbangkan ketika keluhan berulang menurut ruang atau waktu, muncul setelah perubahan bangunan, atau tetap ada setelah inspeksi awal. Sebelum memilih parameter, catat siapa yang terdampak, kapan keluhan terjadi, okupansi, ventilasi, kelembapan, kebocoran, kegiatan, bahan, dan kondisi udara luar.
A3 Laboratories melalui lab.id menyediakan pengujian kualitas udara dalam ruang dan pengukuran lingkungan kerja untuk fasilitas di Indonesia sesuai tujuan serta ruang lingkup yang berlaku.
- Petakan ruang, waktu, jumlah penghuni, gejala atau keluhan, serta perubahan yang memicu kejadian tanpa membuat diagnosis kesehatan.
- Periksa ventilasi, filter, jadwal AC, kelembapan, kebocoran, renovasi, pembersihan, printer, bahan kimia, pembakaran, dan sumber luar.
- Bandingkan ruang berkeluhan dengan ruang pembanding yang fungsi, okupansi, dan kondisi operasinya sepadan.
- Pilih parameter setelah hipotesis sumber terbentuk; satu paket generik dapat melewatkan sumber yang sebenarnya.
| Pola keluhan | Pemeriksaan awal | Parameter atau bukti yang dipertimbangkan | Batas kesimpulan |
|---|---|---|---|
| Muncul saat ruang penuh | Okupansi, suplai udara luar, jadwal AC, pintu, dan pola keluhan | CO2 sebagai indikator ventilasi bersama data okupansi dan laju udara; suhu dan kelembapan | CO2 tidak mengidentifikasi seluruh polutan atau membuktikan penyebab gejala |
| Muncul setelah renovasi atau bahan baru | SDS, perekat, cat, furnitur, waktu pemasangan, ventilasi, dan penggunaan ruang | VOC atau senyawa target sesuai bahan, bukan daftar acak | Hasil perlu dibaca terhadap waktu sejak aplikasi dan kondisi ventilasi |
| Bau lembap atau riwayat kebocoran | Sumber air, material basah, kelembapan, kondensasi, dan inspeksi visual | Kelembapan, kondisi material, dan pemeriksaan mikrobiologi bila tujuan serta metode mendukung | Sampel udara tunggal tidak menggantikan pencarian serta perbaikan sumber kelembapan |
| Keluhan dekat printer, dapur, parkir, atau proses | Jarak, jam operasi, aliran udara, pintu, exhaust, dan sumber luar | Partikulat, CO, NO2, VOC, atau senyawa spesifik sesuai sumber | Pilih periode sampling yang menangkap aktivitas pemicu dan pembanding |
| Keluhan hilang di luar gedung | Catatan waktu, zona, tugas, perpindahan pekerja, dan hari kerja | Pengukuran area atau personal menurut keputusan pajanan | Pola membantu hipotesis, tetapi tidak sendiri membuktikan hubungan sebab-akibat |
Apakah udara dalam ruangan selalu lebih berbahaya daripada udara luar?
Tidak dapat digeneralisasi. Risiko bergantung pada sumber, konsentrasi, durasi, ventilasi, okupansi, kondisi luar, dan orang yang terpapar. Bandingkan kondisi pada waktu serta lokasi yang relevan.
Apakah satu alat sensor cukup untuk menilai kualitas udara dalam ruang?
Belum tentu. Sensor hanya mengukur parameter yang didukung dengan keterbatasan tertentu. Cocokkan alat, metode, kalibrasi, posisi, durasi, dan kualitas data dengan keputusan yang dibutuhkan.
Data apa yang perlu disiapkan sebelum survei udara dalam ruang?
Siapkan denah, fungsi ruang, okupansi, jam keluhan, jadwal HVAC, filter dan perawatan, sumber internal, renovasi, bahan dan SDS, kebocoran, kegiatan luar, hasil lama, serta tujuan evaluasi.
Polusi udara dalam ruangan menjadi hal yang tidak banyak dipikiran oleh orang. Banyak orang mengira polusi udara hanya berasal dari luar ruangan. Padahal, kenyataan tidak berkata demikian. Paparan polutan tak melulu berasal dari luar, tapi juga dalam ruangan.
Ahli kesehatan paru sekaligus Ketua Departemen Pulmunologi dan Respirasi FKUI, Agus Dwi Susanto membenarkan bahwa sumber polusi udara juga datang dari dalam ruangan. Ruangan seperti ruang kerja kantor atau kamar tidur sekalipun, lanjutnya, dapat menyimpan polutan.
Menurutnya ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya polutan di udara dalam ruangan, salah satunya adalah kegiatan domestik, yang berhubungan dengan aktivitas rumah tangga seperti memasak dengan minyak, penggunaan kompor gas, atau kegiatan lain yang berhubungan dengan pembakaran dan pemanasan.
Selain itu, ada pula perkakas elektronik yang cukup banyak ditemukan di dalam kantor seperti printer. Meski udara kantor telah terisolasi dari udara luar karena penggunaan AC, namun bukan berarti emisi berupa partikel halus dari perkakas elektronik musnah di dalamnya.
Terakhir adalah polutan yang bersifat organik seperti bakteri dan virus. Kelembapan dari furnitur membuat bakteri dan virus bertahan lama dalam ruangan.
Praktisi kesehatan dokter Felicia Tobing mengatakan polusi udara dalam ruangan bermacam macam seperti debu, tungau yang hidup dalam debu, zat-zat kimia dari pembersih lantai, pewangi ruangan, pewangi baju, obat pembasmi nyamuk, hingga yang paling parah, yakni asap rokok. Terlebih jika anggota keluarga ada yang mengalami batuk, flu atau demam.
Penghuni rumah atau gedung menghabiskan banyak waktu dalam ruangan memiliki resiko terpapar polutan. Polusi udara dalam ruangan memiliki efek 2-5 kali lebih buruk dari polusi luar ruangan.
Bahaya Polusi Udara Dalam Ruangan
Keberadaan polutan itu jelas mengganggu kesehatan. Bagi bayi, anak-anak, dan kaum lanjut usia, polutan tersebut bisa menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah jatuh sakit. Bahkan pada ibu hamil, polutan bisa mengganggu tumbuh kembang janin dalam kandungan.
Lalu, bagi mereka yang memiliki alergi, polutan tersebut bisa memicu timbulnya reaksi alergi, seperti kambuhnya asma, bersin-bersin, hidung berlendir, mata memerah, hingga sesak napas.
Pada manusia yang sehat sekalipun, lama kelamaan akan menimbulkan penurunan imunitas tubuh shingga mudah terpapar penyakit. Ada baiknya keluarga tetap menjaga kualitas udara dalam ruangan untuk menghindari datangnya penyakit.
Langkah meminimalisir polusi udara dalam ruangan
Untuk meminimalisir polutan di dalam rumah, pastikan rumah memiliki ventilasi udara yang bersih dan berpenyaring. Perlu diingat, udara luar ruangan menjadi salah satu sumber munculnya polutan dalam ruang. Selain itu, kamu juga bisa lakukan beberapa hal berikut ini:
- Menjaga rumah agar tidak terlalu lembap sehingga tidak menjadi tempat bakteri dan jamur berkembang dengan menjemur pakaian, membersihkan AC, menggunakan kipas, dll
- Memastikan lantai untuk tetap bersih dengan menyapu dan mengepel rumah minimal 2 hari sekali. Begitu juga dengan sofa, kasur dan perabot lainnya. Bersihkan peralatan perabot menggunakan lap basah, dan barang elektronik menggunakan lap kering.
- Jaga kebersihan AC. Jarang membersihkan AC dan tidak menjaga kebersihan AC bisa menimbulkan polutan.
- Tidak merokok dalam ruangan. Asap rokok yang tidak terbuang ke udara bebas mengakibatkan sesak nafas
- Menanam tanaman dalam ruangan seperti palem kuning. tanaman pakis yang memiliki peringkat tertinggi dalam kemampuannya untuk menghilangkan formaldehida dari udara. Selain mempercantik ruangan, tanaman juga berfungsi untuk membersihkan udara.
Selain melakukan beberapa hal diatas, pemilik usaha juga perlu melakukan uji kualitas udara sesuai parameter yang ada. Laboratorium Lingkungan bersertifikasi dapat melakukan uji kualitas udara dengan metode sampling. Dalam melakukan metode sampling ini juga tidak boeh sembarangan. Hanya teknisi berpengalaman dan bersertifikasi saja yang bisa melakukan.
Setidaknya ada 8 parameter pengukuran untuk udara dalam ruangan. Yakni SO2 (Sulfur Dioksida), NO2 (Nitrogen Dioksida), C O (Karbon Monoksida), TSP, Pb (Timah Hitam), O3 (Oksidan), NH3 dan H2S. Masing masing parameter memiliki baku mutu tersendiri.
Triage kualitas udara dalam ruang
Perlu menelusuri keluhan penghuni sebelum memilih parameter?
Keluhan penghuni perlu dicatat tanpa mendiagnosis penyakit. Pola ruang, waktu, tugas, sumber, dan perubahan bangunan membantu menentukan apakah inspeksi, pengukuran, atau keduanya diperlukan.
A3 Laboratories dapat membantu menyusun titik, waktu, parameter, kondisi pembanding, dan catatan lapangan untuk survei kualitas udara dalam ruang.